Kiasu 做你愛做的事 (2014)

Kiasu berasal dari bahasa Hokkien, yaitu “kia” ‘takut’ dan “su” ‘kalah’. Sejak populer dalam Singaporean English, kata ini sudah terserap ke dalam bahasa Inggris dengan ejaan yang sama, kiasu, yang berarti sikap mau menang sendiri.

Film Kiasu (pertama dirilis di Taiwan tahun 2014) ini bercerita tentang Lee De Ming, seorang dokter gigi yang tidak menyukai pekerjaannya. Sejak ayah dan ibunya bercerai, De Ming diasuh oleh ibunya yang sangat kiasu dan bergengsi tinggi. Satu saat di umur 30 tahunan, De Ming bertekad untuk menjadi aktor, cita-citanya sejak kecil yang tidak tercapai demi menekuni ilmu kedokteran gigi atas kemauan ibunya. Rekan-rekannya terkejut mengapa De Ming hendak meninggalkan pekerjaannya yang mapan dan berpenghasilan tinggi. Walaupun demikian, De Ming tetap kukuh dan mulai mengikuti casting tanpa sepengetahuan ibunya. Tak lama, akhirnya ketahuan juga oleh ibunya setelah melihat De Ming muncul dalam beberapa iklan di televisi. Pertengkaran hebat pun terjadi, namun De Ming berhasil mengalahkan sikap kiasu ibunya serta memperoleh restu untuk menjadi seorang aktor.

kiasu-poster-2

Film komedi keluarga ini memberikan pelajaran penting bagi kita agar tidak salah melangkah hanya karena kiasu dan gengsi. Sikap kiasu kerap diidentikkan dengan sifat orang Singapura. Namun sebenarnya karakteristik ini sudah merambah ke negara-negara tetangga, termasuk negara kita. Sampai saat menonton film ini terasa seperti deja vu. Kok ibu De Ming mirip ya dengan mama saya? ha-ha… Sikap kiasu mungkin dapat meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri, namun juga dapat mengintimidasi dan memberikan tekanan terhadap orang lain.

Dalam film ini tercetus dialog, “Orang Singapura kiasu, orang Malaysia kiasi.” Kiasi juga berasal dari bahasa Hokkien “kia” ‘takut’, “si” ‘mati’. Dalam kiasu-ism, seseorang melakukan hal apapun agar tidak terkalahkan. Sedangkan kiasi-ism adalah bentuk tindakan untuk menghindari segala resiko yang dapat merugikan diri sendiri.

Saya pribadi juga pernah merasakan tidaknya enaknya bekerja dalam kondisi yang tidak dapat saya nikmati. Walaupun berpenghasilan lumayan tinggi, rasanya tidaklah sepadan dengan kehidupan tanpa warna bagai zombie. Sekarang saya sudah berhasil meninggalkan pekerjaan saya, namun masih ragu untuk memulai hal baru. Semoga akan segera tiba waktunya saya take a leap of faith dan berhasil seperti Lee De Ming! 🙂

Advertisements