Harry Potter and the Cursed Child

Judul : Harry Potter and the Cursed Child Parts I and II
Penulis : Jack Thorne
(Original Story by J.K. Rowling, Jack Thorne, and John Tiffany)
Penerbit : Little Brown
ISBN : 978 0 7515 6535 5

Harry_Potter_and_the_Cursed_Child_Special_Rehearsal_Edition_Book_Cover

Buku ini berisikan kelanjutan dari petualangan Harry Potter. Kisah heroik dan fenomenal Harry Potter yang kedelapan ini dituangkan dalam bentuk naskah pentas Harry Potter and the Cursed Child. Mendengar adanya kelanjutan petualangan yang paling difavoritkan ini saja sudah membuat saya sangat excited, apalagi berkesempatan merasakan bukunya dalam genggaman saya? Saya serasa baru saja kembali dari langit ketujuh. Terima kasih banyak kepada Aa’ yang sudah menghadiahkan my precious ini 😀

Pementasan Harry Potter and the Cursed Child diadakan di Palace Theatre, London, dengan harga tiket berkisar antara £30 – £130. Memang jauh dan mahal sekali. Biarpun demikian, 175.000 lembar tiket langsung terjual dalam 8 jam sejak dibukanya pembelian tiket priority sales, dan jadwal pementasan juga telah diperpanjang sebanyak tiga kali saking banyaknya peminat.  Hingga saat ini, pementasan telah dijadwalkan akan tampil sampai dengan 27 Mei 2017 tahun depan.

Naskah pementasan ini tentunya juga tidak kalah laku. Hanya dalam waktu tiga hari sejak diterbitkan, lebih dari 680.000 copy langsung terjual dan memegang rekor buku yang paling cepat laris dalam dekade ini. Penjualan buku ini mengalahkan Fifty Shades of Grey yang terjual hanya 664.478 copy dalam waktu satu minggu.

J.K. Rowling yang sangat saya kagumi telah menjalankan kampanye #KeepTheSecrets agar tiap fans Harry Potter dapat tetap terpesona ketika menonton atau membaca Harry Potter and the Cursed Child Parts One and Two untuk pertama kalinya. Oleh karena itu, saya juga tidak akan membocorkan isi ceritanya. Namun, sebagai seorang Potter Enthusiast, saya tidak dapat menahan untuk tidak mereview beberapa bagian yang saya kira kontradiktif dengan isi ketujuh buku sebelumnya.

  • Voldemort berhasil menguasai dunia sihir dan muncullah “For Voldemort and Valor” alih-alih “Heil Hitler!”. Voldemort mengkehendaki tiap orang takut kepadanya. Bukan hormat, bukan segan, tapi takut. Takut hingga tidak ada seorang pun yang berani menyebut namanya. Para penyihir memanggilnya dengan You Know Who, He Who Must Not be Named, The Dark Lord, tanpa menyebutkan nama Voldemort. Munculnya salam “For Voldemort and Valor” malah terasa aneh dan berlawanan dengan kebiasaan terdahulu.
  • Bellatrix Lestrange hamil dan melahirkan anak Voldemort. Hei! Voldemort bukan seorang pencinta. Nafsu yang Voldemort miliki hanyalah untuk membunuh dan menjadi satu-satunya penguasa abadi tanpa memerlukan ahli waris. Cerita bahwa Bellatrix berhubungan dengan Voldemort dan melahirkan anaknya di kediaman keluarga Malfoy sebelum terjadinya Pertempuran Hogwarts sungguh terlalu dibuat-buat. Bahkan keluarga Malfoy sendiri tidak ada yang menyadari kehamilan Bellattrix. Memiliki anak dari Voldemort adalah hal yang sangat istimewa. Jika memang benar Bellatrix hamil, tentunya dia tidak akan membiarkan ada yang tidak tahu tentang hal itu.
  • Albus Potter dan Scorpius Malfoy menemukan Godric’s Hollow pada tanggal 30 Oktober 1981. Albus dan Scorpius bukanlah Penjaga Rahasia mantra Fidelius yang mengamankan James dan Lily Potter. Penjaga Rahasia mereka adalah Peter Pettigrew yang mengkhianati mereka di tanggal 31 Oktober 1981, sehingga tidak mungkin Albus dan Scorpius dapat menemukan Godric’s Hollow di hari sebelumnya.
  • Cedric Diggory menjadi Pelahap Maut dan membunuh Neville Longbottom. Sangat sulit dicerna. Hanya karena satu penghinaan dalam Turnamen Triwizard, karakter Cedric Diggory berubah drastis dari seorang remaja tampan, berkelakuan baik, menghargai keadilan, dan tulus, menjadi pribadi yang terkutuk.
  • Severus Snape hidup dan akrab dengan Ron dan Hermione; Harry dan Draco Malfoy berteman. Di satu sisi, saya lebih suka mereka tidak berhubungan baik. Entahlah jika hanya saya yang berpendapat demikian.
  • Hermione menjadi Menteri Sihir, namun tidak secerdas dulu. Selain insiden “tidak ada api” saat mengejar Batu Bertuah, Hermione adalah pribadi yang cerdas dan tangkas. Perannya selaku Menteri Sihir dalam seri ini malah menjatuhkan pamornya.

Dan banyak lagi hal-hal lain yang serasa tidak konsekuen. Cukup mengecewakan memang jika menemukan jalan cerita yang janggal. Namun demikian, saya belum berhenti dan masih bangga menjadi fans Harry Potter. Potter for President!

The Confession – John Grisham

Judul : The Confession (Pengakuan)
Penulis : John Grisham
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 688 halaman
Genre : Legal Thriller
ISBN : 978 602 03 0044 3

Sekali lagi John Grisham membuat saya terpana dengan karyanya. Sebelumnya saya sudah pernah membaca karya-karya Grisham yang lain: A Time to Kill, The King of Torts, dan The Street Lawyer. Namun kali ini saya akan mereview The Confession, yang baru selesai saya baca kemarin menjelang tengah malam.

2016-08-23 21.31.54.jpg

Cerita bermula dari kunjungan Travis Boyette ke kantor Keith Schroeder, pendeta Gereja St. Mark di Topeka, Kansas. Dalam kunjungan itu, Boyette memberi tahu Schroeder tentang kasus Donte Drumm, seorang negro terdakwa penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan Nicole Yarber, seorang cheerleader kulit putih di Slone, Texas. Walaupun tanpa ada bukti apapun, Drumm akan segera dieksekusi hukuman mati dalam beberapa hari ke depan. Boyette yang menderita tumor otak stadium akhir tidak dapat menerima bahwa Drumm akan dijatuhi hukuman atas kejahatan yang Boyette lakukan.

Drumm ditangkap sembilan tahun silam, berdasarkan laporan palsu dari Joey Gamble, mantan pacar Nicole Yarber. Selama interogasi oleh Kepala Detektif Departemen Kepolisian Sloan yang berlangsung hingga belasan jam, Drumm disiksa secara lisan dengan perbagai ancaman, kata-kata kasar, dan pembelokan fakta hingga saking lelah dan frustasinya, Drumm terjebak untuk mengakui kejahatan yang dituduhkan kepadanya. Ditambah dengan persekongkolan antara jaksa penuntut umum dan hakim, mustahil menemukan jalan keluar bagi Drumm.

Syukurlah ada Robbie Flak, sang pengacara pembela, yang tetap gigih memperjuangkan kebebasan bagi Drumm mulai dari awal kasus ini muncul, dan Schroeder bertekad membawa Boyette ke hadapan Flak demi kebebasan Drumm. Setelah perjalanan belasan jam dari Topeka ke Sloan, Boyette bertemu dengan Flak dan memberikan kesaksiannya. Mereka juga memperoleh afidavit dari Gamble perihal kesaksian palsunya. Bermodalkan kedua hal tersebut, mereka menyampaikan petisi penundaan eksekusi. Sialnya, petisi ditolak, dan eksekusi tetap dijalankan sesuai jadwal.

Bagi Flak, Drumm yang tidak bersalah telah menjadi korban pembunuhan oleh hukum. Dia tidak akan menyerah berusaha membersihkan nama Drumm. Boyette adalah kunci utama kasus ini. Dia masih memiliki cincin Yarber sebagai bukti, dan hanya dia yang tahu di mana jasad Nicole berada. Flak dan tim beserta Schroeder berhasil menemukan jasad Nicole dengan bantuan Boyette. Bukti-bukti telah lengkap, dan Flak dengan lantang melayangkan tuntutan balasan kepada pihak-pihak yang ikut andil dalam merugikan Drumm.

Disajikan dengan cerita yang agak keras dan kritis, Grisham kembali berhasil mempermainkan perasaan para pembacanya. Berbagai konflik dan intrik yang muncul diceritakan dengan detail. Bahkan jika pembaca buku ini bukan berasal kalangan hukum, tidaklah sulit untuk mencerna jalan ceritanya. Yang patut disayangkan adalah ending dari buku ini. Menjelang bab terakhir, isinya tidak seimpresif yang diharapkan.