Hypnic Jerk

Semua orang pasti pernah mengalami hypnic jerk. Keadaan ini terjadi ketika kamu baru saja tertidur, kemudian terasa sensasi seakan-akan kamu terjatuh dari tempat yang tinggi, dan kamu pun terkejut dan terbangun. Walaupun setelahnya terasa aman karena tidak benar-benar terjatuh, namun kamu bakal terengah-engah dan jantung berdebar-debar saking kagetnya, bakal merasa malu sendiri juga tuh jika mengalami hypnic jerk sewaktu tertidur di transportasi umum yang banyak orang.

Hypnic jerk (dikenal juga dengan hypnogogic jerk, myoclonic jerk, sleep start, sleep twitch, night start) sudah dipelajari secara ilmiah, namun belum dapat dipastikan apa penyebabnya. Salah satu teori yang paling populer adalah karena tidak kompaknya kerja sama antara sistem saraf otak ventrolateral preoptic nucleus (VLPO) dengan reticular activating system (RAS). VLPO bertugas mengatur rasa kantuk, sedangkan RAS bertugas mengatur rasa bangun atau rasa sadar. Jika VLPO aktif, maka RAS non-aktif, dan sebaliknya. Hypnic jerk yang buat deg-deg-an itu muncul jika VLPO sudah aktif, namun RAS tidak mau tukaran shift, alias belum sepenuhnya nonakif.

Teori lain penyebab hypnic jerk ini adalah karena evolusi. Nenek moyang kita si manusia purba yang mewariskan hypnic jerk ini kepada kita. Manusia purba terbiasa tidur di atas pohon dan harus memiliki refleks yang baik supaya tidak jatuh. Sedikit saja posisi tubuh tidak seimbang ketika sedang tidur, maka otot akan langsung mengirimkan sinyal ke otak supaya bangun dan mencegah terjadinya jatuh.

Ada juga yang menyatakan bahwa hypnic jerk terjadi karena pola hidup yang tidak sehat, stress, kecapean, dan lain-lain. Tapi sebenarnya keadaan ini tidaklah begitu mengkhawatirkan. Hanya saja, jika frekuensinya sudah sangat, amat, begitu sering terjadi hingga merusak waktu tidur kamu, you’d better call your doctor.

Ngomong-ngomong tentang jatuh, jadi teringat perkataan Moriarty kepada Sherlock, “It’s not the fall that kills you. It’s the landing.” (Bener juga yah…)

Advertisements